Diskoperindag Kota Bima Sidak Distributor Semen, Pastikan Ketersediaan Pasokan dan Telusuri Penyebab Kenaikan Harga

Kota Bima – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima melaksanakan Inspeksi Mendadak (Sidak) terhadap tiga distributor semen dan sejumlah toko bangunan di Kota Bima pada Senin, 29 Juni 2026. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Diskoperindag Kota Bima, Ruslan, SE., MM., sebagai langkah pemerintah untuk memastikan ketersediaan stok semen, memantau perkembangan harga di pasaran, serta mengidentifikasi kendala distribusi yang berdampak pada masyarakat.

Sidak dilakukan di Distributor Bosowa, Distributor Tiga Roda, dan Distributor Tonasa, kemudian dilanjutkan dengan pemantauan harga dan stok di beberapa toko bangunan. Dari hasil pemantauan, secara umum pasokan semen masih tersedia, namun distribusinya mengalami hambatan sehingga berdampak pada keterbatasan stok di tingkat pengecer dan terjadinya kenaikan harga.

Hasil pemantauan di Distributor Bosowa menunjukkan bahwa dari dua gudang yang dimiliki, hanya satu gudang yang masih menyimpan stok semen, sementara gudang lainnya telah kosong. Harga semen mengalami kenaikan sebesar Rp1.000 per sak, dari Rp59.000 menjadi Rp60.000 per sak, sedangkan untuk kebutuhan proyek berkisar antara Rp61.000 hingga Rp62.000 per sak. Distributor mencatat pasokan terakhir sebanyak 74.000 sak untuk wilayah Bima dan Dompu, dengan sisa stok sekitar 18.000 sak. Pihak distributor menjelaskan bahwa kendala utama distribusi terjadi akibat antrean kapal di Pelabuhan Bima. Kapal pengangkut semen harus bergantian sandar dengan kapal pengangkut jagung, dengan perbandingan antrean 1 : 2, yaitu setiap satu kapal semen harus bergantian dengan dua kapal pengangkut jagung. Kondisi tersebut mengakibatkan proses bongkar muat semen menjadi lebih lama dan berdampak pada keterlambatan pasokan ke distributor maupun toko bangunan. Proses bongkar muat terakhir berlangsung pada 21–28 Juni 2026.

Sementara itu, Distributor Tiga Roda menerima dua kali pengiriman selama bulan Juni, yaitu sebanyak 60.000 sak pada pertengahan bulan dan 48.000 sak pada 28 Juni 2026. Saat sidak berlangsung, stok di gudang tersisa sekitar 6.000 sak, sedangkan sekitar 22.000 sak masih berada di kapal yang sedang dibongkar. Harga penjualan tunai tercatat sebesar Rp68.000 per sak dan distribusi dilakukan kepada seluruh toko bangunan di Kota Bima dengan alokasi maksimal 3.500 sak untuk setiap toko. Menurut pihak distributor, kendala utama berasal dari terbatasnya kapal angkut, antrean sandar di pelabuhan, serta meningkatnya biaya operasional akibat kenaikan harga BBM non-subsidi yang digunakan kapal.

Di Distributor Tonasa, gudang terpantau kosong karena kapal yang membawa sekitar 49.000 sak semen masih mengantre di pelabuhan sejak beberapa hari sebelumnya. Harga pengambilan di gudang saat ini berada pada kisaran Rp70.000 hingga Rp71.000 per sak, meningkat dari harga sebelumnya sekitar Rp62.000 per sak. Distributor menjelaskan bahwa keterlambatan distribusi dipengaruhi oleh antrean kapal di pelabuhan serta meningkatnya biaya operasional akibat kenaikan harga BBM. Saat ini, distributor melayani kurang dari 20 toko bangunan di wilayah Kota Bima.

Sebagai tindak lanjut, tim Diskoperindag juga melakukan audiensi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bima. Dari hasil pertemuan tersebut diketahui bahwa selama bulan April terdapat tiga kapal pengangkut semen yang masuk ke Pelabuhan Bima, bulan Mei sebanyak dua kapal, dan bulan Juni kembali tiga kapal. Pada periode yang sama, tercatat sekitar 20 kapal pengangkut jagung melakukan aktivitas bongkar muat di pelabuhan. Kondisi ini menyebabkan antrean kapal semakin panjang, mengingat pelabuhan hanya memiliki dua dermaga, di mana Dermaga I diprioritaskan untuk kapal penumpang, sedangkan Dermaga II memiliki kapasitas yang terbatas untuk melayani aktivitas bongkar muat dalam volume besar.

Tim juga melakukan pengecekan di toko bangunan untuk memastikan kondisi stok dan harga di tingkat pengecer. Di Toko Terimakasih, stok semen Tonasa masih tersedia sekitar 5.000 sak dengan harga Rp75.000 per sak. Sementara itu, stok Bosowa dan Tiga Roda sedang kosong. Sedangkan di Toko Jaya Raya, stok Tonasa juga kosong, sementara semen Tiga Roda dijual dengan harga Rp90.000 per sak, jauh di atas harga normal pada bulan April yang berkisar Rp70.000 per sak. Apabila mengambil pasokan dari luar daerah, seperti Sumbawa, harga Tonasa bahkan dapat mencapai Rp87.000 per sak.

Kepala Diskoperindag Kota Bima, Ruslan, SE., MM., menyampaikan bahwa hasil sidak menunjukkan kenaikan harga semen bukan disebabkan oleh kelangkaan produksi, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh hambatan distribusi akibat tingginya aktivitas bongkar muat komoditas jagung di Pelabuhan Bima serta meningkatnya biaya transportasi laut.

"Pemerintah akan terus melakukan pemantauan terhadap stok dan harga semen di lapangan serta berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar distribusi dapat berjalan lebih lancar sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang wajar," ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Diskoperindag Kota Bima menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan bangunan strategis, sekaligus memastikan distribusi barang kebutuhan masyarakat tetap berjalan dengan baik melalui koordinasi bersama distributor, pelaku usaha, dan instansi terkait.